Dongeng Sains

DONGENG SAINS

Much education today is monumentally ineffective. All too often we are giving young people cut flowers when we should be teaching them to grow their own plants.
John W. Gardner

“Kamu tahu gak temuannya Einstein?” tanya seorang siswa kepada temannya.

“Oh, gampang! E=mc2 kan?” jawab si teman di sampingnya.

“Iya, itu rumus ngomongin apa sih kok terkenal banget?” tanya siswa pertama penasaran.

“Ngomongin bom atom apa ya…” jawab siswa kedua dengan ragu.

“Ah, masak?” tanya siswa pertama tak yakin.

“Nggak tahu, lah, pokoknya di ujian tulis aja E=mc2…”

Obrolan di atas terdengar di sebuah kelas di salah satu sekolah menengah atas terbaik di sebuah kota besar. Cukup mengejutkan bahwa kata-kata di atas terdengar dari seorang yang sudah hampir 12 tahun mengenyam pendidikan. Bukan sembarang pendidikan, karena selama hidupnya si anak telah menuntut ilmu di sekolah-sekolah yang katanya favorit di kota yang dikenal sebagai kota pelajar, tempat pelajar-pelajar terbaik seantero negeri mengenyam pendidikan. Lalu, apa sebenarnya yang salah?

Sudah bukan rahasia bahwa pelajaran matematika dan sains telah menjadi momok di seantero negeri. Rumus-rumus dan diagram-diagram yang sedemikian njlimetnya telah lama menjadi musuh abadi para siswa sehingga sering memunculkan stigma bahwa orang paling jenius di kelas adalah yang nilai fisikanya paling bagus. Tak heran kalau rumus-rumus praktis ciptaan bimbel-bimbel begitu diminati jelang ujian, karena bisa meringkas sesuatu yang begitu susah tadi menjadi sederet “jembatan keledai” yang mudah dihafal. Dan tak mengejutkan juga jika demikian banyak siswa-siswi terjebak pada “jembatan keledai” tadi sampai-sampai melupakan pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan sang ilmuwan lewat formula temuannya.

Fenomena apa yang umum terjadi di kelas saat pelajaran sains saat ini? Pertama, guru membuka kelas. Kedua, guru membacakan judul bab yang akan dipelajari. Ketiga, guru menuliskan rumusnya sambil menyebutkan apa nama hukumnya. Keempat, guru memberikan contoh soal dan pengerjaannya. Kelima, guru memberi tugas untuk dikumpulkan. Keenam, guru menutup pertemuan.

Gambaran di atas adalah fenomena umum yang sering dihadapi siswa-siswi di kelas saat ini. Siswa-siswi dicekoki dengan formula-formula, symbol-simbol, dan kemudian soal-soal tanpa mendapatkan penjelasan yang lebih mendetail tentang materi yang sedang diajarkan, entah karena ketidaktahuan maupun ketidakmautahuan para pengajar. Belakangan memang muncul pengajar-pengajar kreatif yang memanfaatkan media atau alat peraga yang menarik bagi siwa-siswinya, tetapi jumlahnya masih sangat sedikit. Maka, murid-murid tak bisa disalahkan atas ketidaktahuan mereka tentang konsep yang terkandung dalam rumus-rumus itu. Dan wajar kalau kemudian mereka hanya melirik rumusnya dan merancang jembatan keledainya untuk bisa mengerjakan soal ujian.

Jelas, apa yang terjadi kini, justru bertentangan dengan salah satu tujuan dasar pendidikan: membuat pikiran yang tadinya tertutup dan sempit menjadi terbuka dan luas. Yang terjadi sekarang adalah pikiran para siswa justru semakin tertutup karena hanya mengingat jembatan-jembatan keledai dari rumus-rumus itu tanpa mendapatkan pemahaman lebih mendalam. Hal ini akan menggerus kreatifitas para siswa dan semakin menggeser pandangan siswa tentang tujuan bersekolah, bukan untuk mendapatkan ilmu, tetapi mendapatkan nilai yang bagus.

Lalu, bagaimana seharusnya sains diajarkan?

Banyak cara menarik untuk mengajarkan sains. Beberapa pengajar kini menggunakan bantuan teknologi, mulai dari slide power point hingga animasi, untuk memberikan materi secara lebih menarik. Beberapa juga mengedepankan alat peraga untuk eksperimen sehingga siswa dapat membuktikan sendiri teori-teori yang mereka pelajari. Tetapi, ada satu metode yang kini masih jarang digunakan dan dalam hemat saya sangat layak untuk dicoba: memahami sains lewat sejarah.

Idenya sederhana dan tak perlu belajar power point ataupun macromedia flash: pengajar mendongengkan kisah di balik penemuan suatu rumus. Dengan mempelajari sejarahnya, para siswa bisa ikut berpikir dari sudut pandang sang ilmuwan, bagaiman dia berusaha menjawab atau menjelaskan fenomena-fenomena alam di sekitarnya, bagaimana ilmuwan itu mencetuskan suatu teori kemudian mengetesnya dengan eksperimen, bagaimana teori sang ilmuwan barangkali mengalami kegagalan atau ketidakcocokan dengan hasil di lapangan, hingga akhirnya sang ilmuwan berhasil menemukan jawaban dan merumuskannya secara matematis menjadi rumus cantik yang bukan hanya menawarkan symbol-simbol untuk dihafalkan, tetapi juga berisi keringat kerja keras pemikiran mereka untuk mencoba menjawab bagaimana sesungguhnya “jam” alam semesta “berdetik”.

Dengan belajar sejarah di balik rumus E=mc2 misalnya, para siswa dapat merasakan bagaimana bingungnya para ilmuwan terdahulu menyikapi sifat cahaya yang tidak butuh medium untuk merambat. Salah satu implikasi dari temuan Maxwell tentang gelombang elektromagnetik (cahaya) adalah jika seorang diam dan seorang bergerak melihat cahaya merambat, kecepatannya akan terlihat sama bagi keduanya. Hal ini jelas bertentangan dengan akal sehat karena seseorang yang naik kereta jelas akan melihat mobil bergerak lebih lambat daripada seorang yang diam di pinggir jalan melihat mobil bergerak. Berawal dari sana lah Einstein mencetuskan teori bahwa cahaya mempunyai kecepatan yang sama baik yang melihat itu sedang diam maupun sedang bergerak, yang kemudian diikuti lahirnya rumus kesetaraan energy dan massanya yang terkenal itu, yang sebenarnya ingin menyampaikan bahwa massa adalah bentuk lain dari energy dan sama sekali tak berhubungan dengan bom atom. Dengan mengetahui sejarahnya, para siswa jelas akan mendapatkan pemahaman baru tentang hukum-hukum yang mengatur seluruh alam semesta.

Harus diakui, metode ini tidak mudah diterapkan, karena keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh kedalaman pengajar dalam memahami materi itu sendiri. Juga kemampuan pengajar untuk menghadirkan atmosfer yang baik dalam bercerita agar menarik dan tidak membosankan para pendengarnya.

Tetapi, jika berhasil, para siswa bukan hanya lebih mudah mencerna konsep-konsep yang diajarkan ataupun mudah menghafal rumusnya, tetapi juga mampu menghargai kerja keras para ilmuwan dalam menemukan rumus-rumus tersebut dan mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang maksud atau pesan yang ingin disampaikan rumus itu.

Harapannya, lewat “dongeng sains” ini, para siswa lebih mudah menangkap materi yang diajarkan juga untuk menghafalkan rumus-rumus tanpa kehilangan esensi dari rumus itu sendiri. Jangan sampai generasi mendatang dipenuhi oleh orang-orang yang hanya hafal kulitnya tanpa mengetahui isinya, hanya tahu formulanya tanpa memahami bagaimana dan untuk apa formula itu diterapkan dalam kehidupan.

Leave a comment »

Catatan dua orang kakek

“Kemarilah, Nak! Ambil ayam-ayam ini!” ujar seorang kakek yang tengah berjongkok di samping kandang. Cucunya yang belum genap berusia tiga tahun bertatih-tatih mendekat, menyusuri jalanan penuh bebatuan, memandangi orang tua di depannya dan ayam-ayam kecil di sampingnya dengan tatapan tak mengerti. Senyum ramah menghiasi wajah keriput di bawah kopiah.

Itulah sedikit yang diingat sang anak tentang ayah dari ibunya itu. Kakeknya adalah seorang pedagang batu gamping di pasar sebuah kota kecil di pedalaman negerinya. Seorang Jawa beranak sepuluh yang sering memberikan ayam-ayam kecil kepada cucunya untuk dipelihara (dan ditelantarkan). Seorang bapak yang bersikeras menyekolahkan anak-anaknya betapa pun sedikit uang yang ia punya, bahkan hingga mengirim putrinya tercinta bersekolah di kota ratusan kilo dari rumah. Dan juga seorang muslim yang beranjak ke masjid terdekat saat adzan berkumandang.

Hanya itu lah yang ia tahu tentang kakeknya. Hal lain yang diingat si anak kecil adalah malam ketika kakeknya telah berbalut kain kafan dan ibunya menangis tanpa ia mengerti sedikit pun apa yang terjadi.

Usianya tiga tahun saat salah satu kakeknya meninggalkannya.

* * *

“Bagaimana bisa salah?” kakeknya berteriak marah di suatu siang.

Beberapa tahun berlalu dan sang anak kini telah menginjak bangku sekolah dasar. Ia dibesarkan oleh orangtua ayahnya sementara ayah-ibunya sendiri merantau jauh, bekerja di kota besar. Ia pun sudah terbiasa dengan kakek-neneknya hingga menganggap mereka ayah dan ibunya sendiri.

Tapi, siang itu si anak hanya tertunduk lesu, di bawah  tatapan tajam kakeknya. Badannya gemetar dan giginya bergemelatuk tanda takut. Ulangan matematikanya jeblok dan dirinya kini harus mempertanggungjawabkannya di depan sang kakek. “Awas kalau sampai salah lagi!” sang kakek mengakhiri, membuat si anak akhirnya bisa kembali bernafas lega.

Kakeknya lah yang sedari kecil mendidiknya. Bukan hanya berhitung dan mengeja yang ia ajarkan, tetapi juga mengaji. Saat kecil, kakeknya sering memberinya masalah untuk dipecahkan dan buku-buku untuk dibaca. Di malam hari, sang kakek meninggalkan toko dagangannya dan mengajari cucunya mengaji. Ia adalah orang pertama yang tersenyum saat cucunya berbuat baik dan orang pertama yang murka saat cucunya bandel.

Pernah suatu ketika si anak kecil merasa begitu malas untuk sholat maghrib. Dengan licik, si anak justru membeli pisang goreng favoritnya dan berdalih bahwa ia akan menghabiskan makanannya terlebih dahulu sebelum sholat. Bukannya buru-buru menghabiskan pisang gorengnya, si anak justru berlama-lama mengunyah makanannya agar adzan isya segera tiba dan dirinya terbebas dari keharusan sholat maghrib. Kakeknya pun datang dan merampas makanan di tangannya sambil memarahinya. Kemarahannya baru reda setelah si anak dengan terpaksa beranjak ke musholla untuk sholat.

Sebaliknya, saat si anak berhasil memenangkan lomba matematika pertamanya dan datang ke arah toko kecil sang kakek sambil berteriak-teriak girang, bukannya tertawa gembira, kakeknya tanpa terduga-duga justru mengucurkan air mata sembari memeluknya. Si anak pun bingung: mengapa kakeknya menangis?

* * *

Waktu pun berlalu. Saat si anak menginjak bangku SMP, ia memutuskan untuk tinggal bersama ayah-ibunya di kota, ratusan kilo dari kampung tempatnya dibesarkan, meninggalkan kakek-nenek yang selama ini telah merawatnya. Si anak pun mendaftar ke sebuah sekolah dan berada di peringkat ke-86, sebuah posisi yang tidak buruk untuk seorang anak yang baru saja pindah dari desa. Tetapi, sang kakek justru tertawa lewat telepon dan berkata, “Masa’ peringkat segitu?”

Dan itu lah tawa terakhir kakeknya yang diingat oleh si anak. Tak lama setelah kepindahan cucunya ke kota, sang kakek terserang penyakit stroke. Badannya lumpuh dan bahkan untuk sekedar berkata-kata pun ia tak bisa. Selama lebih dari dua tahun ia berjuang melawan penyakitnya sebelum akhirnya wafat dan menghembuskan nafas terakhirnya ratusan kilo dari tempat cucu kesayangannya berada.

* * *

Dulu, si anak tak mengerti mengapa kedua kakeknya membiarkan ayah dan ibunya bersekolah di kota besar yang teramat jauh dan rela membesarkan dirinya meski mereka sendiri tak punya banyak uang. Ia tak paham mengapa kakeknya, ayah dari ayahnya, begiu marah saat ia berbuat salah. Ia bingung mengapa kakeknya begitu murka saat ia malas untuk sholat tetapi justru mengucurkan air mata saat ia berhasil.

Baru sekarang sang anak bisa memahami kedua orang kakeknya.

Apa yang dilakukan kakeknya pada ayah dan ibunya adalah cinta seorang ayah agar anaknya berkembang, tidak menjadi seorang pedangang batu gamping atau pemilik kios kecil seperti dirinya, tetapi menjadi generasi yang lebih baik dan maju. Apa yang dilakukan kakeknya saat ia melakukan salah adalah kasih seorang kakek agar cucunya mampu mengambil hikmah dari sebuah kesalahan. Murkanya adalah rasa sayang, agar sang anak tak pernah melupakan Tuhan jadi apa pun dirinya nanti. Tangis kakeknya adalah rasa haru, senang karena cucunya tak terjatuh di lubang kesalahan yang sama. Dan tawa kakeknya adalah dorongan serta motivasi, agar cucunya mencari ilmu tanpa mengenal batas dan selalu berusaha menjadi lebih baik.

Sang anak pun tersadar betapa banyak yang keduanya telah berikan kepadanya dan betapa sedikit yang ia telah berikan kepada keduanya. Kini, dirinya terpisah demikian jauh dari makam kakeknya. Dan tubuh-tubuh mereka pun sudah hancur dimakan waktu.

Si anak pun hanya bisa berbisik dalam doanya, “Wahai Tuhan, betapa pun tidak sempurnanya kedua kakekku, jadikan apa-apa yang telah mereka berikan kedapaku sebagai amal. Biarkanlah keikhlasan mereka mengalir dalam darah dan semangat mereka membara dalam jiwa. Izinkanlah diri ini kelak menemui mereka kembali agar lisan ini bisa mengucapkan terima kasih yang belum sempat terucap.”

(For my grandfathers, those who give a lot and expect nothing)

Leave a comment »

Ketika SpongeBob SquarePants meninggal dunia

Barangkali, membaca judul di atas membuat pembaca (jika ada) terheran-heran apa kira-kira isi tulisan ini atau justru malah langsung membuka halaman web lain. Tulisan ini bukan lah bentuk propaganda terselubung, konspirasi, ataupun promosi pihak-pihak tertentu, melainkan opini liliputjogja tentang apa yang ia lihat dan rasakan.

Barangkali banyak yang sudah tahu tentang tokoh SpongeBob si “Celana Kotak-Kotak”, serial kartun amerika yang beberapa tahun belakangan diputar di salah satu televisi swasta di tanah air. Tetapi, barangkali tidak banyak yang tahu bahwa kisah yang banyak digemari anak-anak ini sebenarnya perwujudan dari sang pembuat, ilmuwan biologi laut dan animator Stephen Hillenburg untuk mengenalkan dunia bawah laut kepada anak-anak. Tetapi, liliputjogja juga tak akan membahas hal itu panjang-lebar di sini, karena pembaca pastinya akan menemukan detailnya di web lain.

Liliputjogja justru ingin mengajak pembaca memikirkan karakter si tokoh utama dan membayangkan apa jadinya kota bawah laut Bikini Bottom jika SpongeBob SquarePants meninggal dunia.

Sesuai dengan namanya, SpongeBob adalah “sponge”, semacam hewan laut berpori-pori yang tak punya sistem pencernaan, peredaran darah, maupun syaraf. Ia mendapatkan makanan dengan mengalirkan air masuk melewati pori-pori pada tubuhnya secara terus-menerus. Sponge juga dikenal mampu meregenerasi bagian tubuhnya yang terputus, seperti juga pernah ditampilkan di salah satu episode SpongeBob. SpongeBob SquarePants adalah seekor sponge yang tinggal di kota bawah laut Bikini Bottom di sebuah rumah nanas bersama siput-bersuara-kucing Gary dan bertetangga dengan Patrick si Bintang Laut serta Squidward si Cumi-Cumi. Ia bekerja di restoran milik Eugene Krabb, Krasty Krabb, sebagai koki tunggal yang memasak burger lezat bernama Krabby Patty, dan melindungi resep rahasianya dari Plankton, saingan bisnis majikannya. Ia gemar menangkap ubur-ubur dan senang beradu silat dengan kawannya Sandy si Tupai, yang hidup di bawah air dengan helm-astronot agar bisa bernafas. Ia juga bersekolah di Sekolah “Mengemudi” (Kapal) milik Nyonya Puff.

Lebih dari itu semua, lilipitjogja melihat bahwa SpongeBob adalah karakter yang sangat menarik. Ia polos dan kekanak-kanakan, senang tertawa, dan selalu ceria, hingga kadang kepolosannya membuat jengkel Squidward. Ia pribadi yang optimis, senang menyenandungkan irama penuh semangat saat bangun pagi dan hendak bekerja. Ia juga seorang pekerja keras sejati dan sangat setia kepada restoran tempatnya bekerja meski digaji murah (salah satu alasan Tuan Krabb mempekerjakannya). Ia melewati hari-hari tanpa beban. Baginya, hidup barangkali semacam “Hakuna Matata” ataupun “Aal izt well”. Selain itu, ia sangat penyayang kepada rekan-rekan (semisal saat berusaha membuat Sandy si Tupai tak meninggalkan Bikini Bottom) dan bahkan barang-barang kepunyaannya (termasuk spatula yang selalu dipakainya memasak Krabby Patty). Ia juga dengan tulus membantu jagoan favoritnya, Mermaid Man dan Bernacle Boy, melawan musuh bebuyutan mereka. Dan meskipun ia tak kunjung lulus dari Sekolah “Mengemudi” Nyonya Puff, ia tak pernah menyerah untuk mencoba.

Bagi liliputjogja, melihat SpogeBob seperti melihat seorang anak dalam dunia dewasa, bertahan dengan kepolosannya di tengah-tengah intrik Plankton ataupun kearoganan Squidward; bermain tangkap ubur-ubur di tengah kesibukannya sebagai koki di Krasty Krabb dan perjuangannya untuk lulus Sekolah “Mengemudi”. Ia bisa tetap tertawa ceria di tengah-tengah dunia penuh kerumitan di sekitarnya. Dan menurut liliputjogja, justru itulah yang membuat SpongeBob tetap survive sebagai pribadi yang tulus dan jujur: karena ia mempertahankan sikap polos dan kritik seorang bocah, hal yang semakin ditinggalkan seseorang saat ia beranjak dewasa.

Barangkali, Bikini Bottom akan menangis jika kehilangan sosok sponge yang satu ini. Patrick dan Sandy, dua sahabat akrabnya, barangkali adalah dua orang yang paling kehilangan, karena tak akan ada lagi yang bisa menemani kepolosan Patrick dan mencegah kepulangan Sandy ke Texas di atas laut. Tuan Krabb pasti juga akan terpukul jika koki terbaiknya (dan satu-satunya) itu tiada, setidaknya sebelum ia menemukan segunung uang yang akan segera membuatnya kembali ceria. Gary si siput juga mungkin akan sedih jika majikannya meninggal, tetapi mungkin juga akan terhibur karena tak ada lagi tuan yang lupa memberinya makan. Nyonya Puff mungkin malah akan ceria karena muridnya yang tak kunjung lulus itu meninggal, tapi ia pun pasti akan merindukan kehadiran si celana kotak-kotak di kelas. Squidward barangkali akan berpesta saat itu terjadi, setidaknya sebelum ia sadar betapa tetangganya itu selalu “mengganggunya” justru untuk melunakkan arogansi dan keegoisannya. Banyak mungkin yang akan senang dengan kepergian “si pengganggu” SpongeBob, tetapi tak akan terhitung banyaknya yang menangisinya.

Sungguh, liliputjogja merasa SpongeBob bukan hanya sebuah kartun anak-anak yang mengeksploitasi kekonyolan tokoh-tokohnya ataupun membawa dunia bawah laut yang indah ke layar televisi. SpongeBob SquarePants adalah bentuk kritik kepada dunia orang dewasa, yang egoistis, arogan, mengedepankan uang dan kejayaan di atas segalanya. SpongeBob SquarePants adalah sebuah ironi terhadap dunia di sekitar kita yang penuh intrik dan kelicikan, bahkan peperangan. SpongeBob SquarePants menghadirkan sebuah pemikiran betapa rumit dan anehnya dunia saat ini.

Barangkali benar kata seorang teman bahwa “Semakin kau kenal dunia, semakin brengsek dirimu!”, bahwa orang dewasa cenderung untuk menjadi licik, materialistis dan bahkan “jahat”. Mereka tak malu-malu lagi berbuat kecurangan-kecurangan dan mencuri yang bukan miliknya, melakukan kekerasan dan bahkan membunuh orang lain, hal yang ketika kecil mereka komentari dengan polos, “Nanti masuk neraka lho!”. Banyak yang tak lagi ingat betapa perbuatan-perbuatan yang sewaktu kecil dianggap tabu oleh mereka, kini justru mereka jadikan rutinitas. Patut disayangkan, orang-orang dewasa kini menganggap nilai-nilai yang mereka percaya sewaktu kecil hanya sebatas “untuk menakut-nakuti anak-anak”.

Liliputjogja berpendapat, barangkali negeri ini akan lebih baik jika dipimpin oleh seorang SpongeBob SquarePants. Meski suka bercanda dan kekanak-kanakan, ia tetaplah sosok jujur, setia, dan pekerja keras. Barangkali, ia masih lebih baik daripada mereka yang kini duduk di kursi kekuasaan, yang tak lagi menggunakan hati nurani untuk bertindak.

Komentar dimatikan

Memulai Lembaran Baru

Akhirnya, setelah berbulan-bulan tidak meng-update, sempat juga nulis lagi di blog yang mulai terbengkalai ini. Mari kita mulai lembaran biru dalam hidup dan blog ini. Semangat!

Leave a comment »

Target 2010 M – 1431 H

Mungkin sedikit terlambat. Baru sekarang sempat benar2 ngenet
Teman2, tlg aku diingatkan jika hal2 yg kulakukan nanti menyimpang dari target ini.

1. Lolos PBUB TE UGM
2. Lulus ujian nasional
3. Medali APhO 2010 Taiwan
4. Lulus ujian sekolah
5. Medli IPhO 2010 Kroasia
6. finishing tetralogi Skinheald
7. 5 waktu berjamaah
8. Salat rawatib, dhuha, tahajud
9. Puasa2 Sunnah (hr2 yg dianjurkan)
10. Dapat “pekerjaan”
11. Membina adik2ku agar lancar Alquran
12. Membina adik2 kelasku agar sukses di OSN
13. Melanjutkan tabungan bareng Romi & Harsa
14. Harus selalu “beberapa langkah lebih maju” di kuliah
15. Yang jelas: iman dan ilmu harus bertambah!!!

Semoga yang ditargetkan bisa tercapai semua plus bonus2nya. AMiiin Ya ALLAH!

Comments (3) »

The next Target

Alhamdulillah, terima kasih banyak atas doa dan dukungan teman-teman semua.

Liliputjogja mohon doa lagi agar bisa mempersembahkan medali emas di Asian Physics Olympiad April 2010 di Taiwan.

Ayo semangat!!!

Comments (2) »

Ayo ke 8 Besar!

Alhamdulillah, akhirnya lolos ke 15 besar TOFI 2010. Perjalanan menuju APhO IPhO masih panjang! Semangat menuju 8 besar TOFI 2010!

Doakan ya!

Comments (2) »