“Kemarilah, Nak! Ambil ayam-ayam ini!” ujar seorang kakek yang tengah berjongkok di samping kandang. Cucunya yang belum genap berusia tiga tahun bertatih-tatih mendekat, menyusuri jalanan penuh bebatuan, memandangi orang tua di depannya dan ayam-ayam kecil di sampingnya dengan tatapan tak mengerti. Senyum ramah menghiasi wajah keriput di bawah kopiah.
Itulah sedikit yang diingat sang anak tentang ayah dari ibunya itu. Kakeknya adalah seorang pedagang batu gamping di pasar sebuah kota kecil di pedalaman negerinya. Seorang Jawa beranak sepuluh yang sering memberikan ayam-ayam kecil kepada cucunya untuk dipelihara (dan ditelantarkan). Seorang bapak yang bersikeras menyekolahkan anak-anaknya betapa pun sedikit uang yang ia punya, bahkan hingga mengirim putrinya tercinta bersekolah di kota ratusan kilo dari rumah. Dan juga seorang muslim yang beranjak ke masjid terdekat saat adzan berkumandang.
Hanya itu lah yang ia tahu tentang kakeknya. Hal lain yang diingat si anak kecil adalah malam ketika kakeknya telah berbalut kain kafan dan ibunya menangis tanpa ia mengerti sedikit pun apa yang terjadi.
Usianya tiga tahun saat salah satu kakeknya meninggalkannya.
* * *
“Bagaimana bisa salah?” kakeknya berteriak marah di suatu siang.
Beberapa tahun berlalu dan sang anak kini telah menginjak bangku sekolah dasar. Ia dibesarkan oleh orangtua ayahnya sementara ayah-ibunya sendiri merantau jauh, bekerja di kota besar. Ia pun sudah terbiasa dengan kakek-neneknya hingga menganggap mereka ayah dan ibunya sendiri.
Tapi, siang itu si anak hanya tertunduk lesu, di bawah tatapan tajam kakeknya. Badannya gemetar dan giginya bergemelatuk tanda takut. Ulangan matematikanya jeblok dan dirinya kini harus mempertanggungjawabkannya di depan sang kakek. “Awas kalau sampai salah lagi!” sang kakek mengakhiri, membuat si anak akhirnya bisa kembali bernafas lega.
Kakeknya lah yang sedari kecil mendidiknya. Bukan hanya berhitung dan mengeja yang ia ajarkan, tetapi juga mengaji. Saat kecil, kakeknya sering memberinya masalah untuk dipecahkan dan buku-buku untuk dibaca. Di malam hari, sang kakek meninggalkan toko dagangannya dan mengajari cucunya mengaji. Ia adalah orang pertama yang tersenyum saat cucunya berbuat baik dan orang pertama yang murka saat cucunya bandel.
Pernah suatu ketika si anak kecil merasa begitu malas untuk sholat maghrib. Dengan licik, si anak justru membeli pisang goreng favoritnya dan berdalih bahwa ia akan menghabiskan makanannya terlebih dahulu sebelum sholat. Bukannya buru-buru menghabiskan pisang gorengnya, si anak justru berlama-lama mengunyah makanannya agar adzan isya segera tiba dan dirinya terbebas dari keharusan sholat maghrib. Kakeknya pun datang dan merampas makanan di tangannya sambil memarahinya. Kemarahannya baru reda setelah si anak dengan terpaksa beranjak ke musholla untuk sholat.
Sebaliknya, saat si anak berhasil memenangkan lomba matematika pertamanya dan datang ke arah toko kecil sang kakek sambil berteriak-teriak girang, bukannya tertawa gembira, kakeknya tanpa terduga-duga justru mengucurkan air mata sembari memeluknya. Si anak pun bingung: mengapa kakeknya menangis?
* * *
Waktu pun berlalu. Saat si anak menginjak bangku SMP, ia memutuskan untuk tinggal bersama ayah-ibunya di kota, ratusan kilo dari kampung tempatnya dibesarkan, meninggalkan kakek-nenek yang selama ini telah merawatnya. Si anak pun mendaftar ke sebuah sekolah dan berada di peringkat ke-86, sebuah posisi yang tidak buruk untuk seorang anak yang baru saja pindah dari desa. Tetapi, sang kakek justru tertawa lewat telepon dan berkata, “Masa’ peringkat segitu?”
Dan itu lah tawa terakhir kakeknya yang diingat oleh si anak. Tak lama setelah kepindahan cucunya ke kota, sang kakek terserang penyakit stroke. Badannya lumpuh dan bahkan untuk sekedar berkata-kata pun ia tak bisa. Selama lebih dari dua tahun ia berjuang melawan penyakitnya sebelum akhirnya wafat dan menghembuskan nafas terakhirnya ratusan kilo dari tempat cucu kesayangannya berada.
* * *
Dulu, si anak tak mengerti mengapa kedua kakeknya membiarkan ayah dan ibunya bersekolah di kota besar yang teramat jauh dan rela membesarkan dirinya meski mereka sendiri tak punya banyak uang. Ia tak paham mengapa kakeknya, ayah dari ayahnya, begiu marah saat ia berbuat salah. Ia bingung mengapa kakeknya begitu murka saat ia malas untuk sholat tetapi justru mengucurkan air mata saat ia berhasil.
Baru sekarang sang anak bisa memahami kedua orang kakeknya.
Apa yang dilakukan kakeknya pada ayah dan ibunya adalah cinta seorang ayah agar anaknya berkembang, tidak menjadi seorang pedangang batu gamping atau pemilik kios kecil seperti dirinya, tetapi menjadi generasi yang lebih baik dan maju. Apa yang dilakukan kakeknya saat ia melakukan salah adalah kasih seorang kakek agar cucunya mampu mengambil hikmah dari sebuah kesalahan. Murkanya adalah rasa sayang, agar sang anak tak pernah melupakan Tuhan jadi apa pun dirinya nanti. Tangis kakeknya adalah rasa haru, senang karena cucunya tak terjatuh di lubang kesalahan yang sama. Dan tawa kakeknya adalah dorongan serta motivasi, agar cucunya mencari ilmu tanpa mengenal batas dan selalu berusaha menjadi lebih baik.
Sang anak pun tersadar betapa banyak yang keduanya telah berikan kepadanya dan betapa sedikit yang ia telah berikan kepada keduanya. Kini, dirinya terpisah demikian jauh dari makam kakeknya. Dan tubuh-tubuh mereka pun sudah hancur dimakan waktu.
Si anak pun hanya bisa berbisik dalam doanya, “Wahai Tuhan, betapa pun tidak sempurnanya kedua kakekku, jadikan apa-apa yang telah mereka berikan kedapaku sebagai amal. Biarkanlah keikhlasan mereka mengalir dalam darah dan semangat mereka membara dalam jiwa. Izinkanlah diri ini kelak menemui mereka kembali agar lisan ini bisa mengucapkan terima kasih yang belum sempat terucap.”
(For my grandfathers, those who give a lot and expect nothing)