Ketika SpongeBob SquarePants meninggal dunia

Barangkali, membaca judul di atas membuat pembaca (jika ada) terheran-heran apa kira-kira isi tulisan ini atau justru malah langsung membuka halaman web lain. Tulisan ini bukan lah bentuk propaganda terselubung, konspirasi, ataupun promosi pihak-pihak tertentu, melainkan opini liliputjogja tentang apa yang ia lihat dan rasakan.

Barangkali banyak yang sudah tahu tentang tokoh SpongeBob si “Celana Kotak-Kotak”, serial kartun amerika yang beberapa tahun belakangan diputar di salah satu televisi swasta di tanah air. Tetapi, barangkali tidak banyak yang tahu bahwa kisah yang banyak digemari anak-anak ini sebenarnya perwujudan dari sang pembuat, ilmuwan biologi laut dan animator Stephen Hillenburg untuk mengenalkan dunia bawah laut kepada anak-anak. Tetapi, liliputjogja juga tak akan membahas hal itu panjang-lebar di sini, karena pembaca pastinya akan menemukan detailnya di web lain.

Liliputjogja justru ingin mengajak pembaca memikirkan karakter si tokoh utama dan membayangkan apa jadinya kota bawah laut Bikini Bottom jika SpongeBob SquarePants meninggal dunia.

Sesuai dengan namanya, SpongeBob adalah “sponge”, semacam hewan laut berpori-pori yang tak punya sistem pencernaan, peredaran darah, maupun syaraf. Ia mendapatkan makanan dengan mengalirkan air masuk melewati pori-pori pada tubuhnya secara terus-menerus. Sponge juga dikenal mampu meregenerasi bagian tubuhnya yang terputus, seperti juga pernah ditampilkan di salah satu episode SpongeBob. SpongeBob SquarePants adalah seekor sponge yang tinggal di kota bawah laut Bikini Bottom di sebuah rumah nanas bersama siput-bersuara-kucing Gary dan bertetangga dengan Patrick si Bintang Laut serta Squidward si Cumi-Cumi. Ia bekerja di restoran milik Eugene Krabb, Krasty Krabb, sebagai koki tunggal yang memasak burger lezat bernama Krabby Patty, dan melindungi resep rahasianya dari Plankton, saingan bisnis majikannya. Ia gemar menangkap ubur-ubur dan senang beradu silat dengan kawannya Sandy si Tupai, yang hidup di bawah air dengan helm-astronot agar bisa bernafas. Ia juga bersekolah di Sekolah “Mengemudi” (Kapal) milik Nyonya Puff.

Lebih dari itu semua, lilipitjogja melihat bahwa SpongeBob adalah karakter yang sangat menarik. Ia polos dan kekanak-kanakan, senang tertawa, dan selalu ceria, hingga kadang kepolosannya membuat jengkel Squidward. Ia pribadi yang optimis, senang menyenandungkan irama penuh semangat saat bangun pagi dan hendak bekerja. Ia juga seorang pekerja keras sejati dan sangat setia kepada restoran tempatnya bekerja meski digaji murah (salah satu alasan Tuan Krabb mempekerjakannya). Ia melewati hari-hari tanpa beban. Baginya, hidup barangkali semacam “Hakuna Matata” ataupun “Aal izt well”. Selain itu, ia sangat penyayang kepada rekan-rekan (semisal saat berusaha membuat Sandy si Tupai tak meninggalkan Bikini Bottom) dan bahkan barang-barang kepunyaannya (termasuk spatula yang selalu dipakainya memasak Krabby Patty). Ia juga dengan tulus membantu jagoan favoritnya, Mermaid Man dan Bernacle Boy, melawan musuh bebuyutan mereka. Dan meskipun ia tak kunjung lulus dari Sekolah “Mengemudi” Nyonya Puff, ia tak pernah menyerah untuk mencoba.

Bagi liliputjogja, melihat SpogeBob seperti melihat seorang anak dalam dunia dewasa, bertahan dengan kepolosannya di tengah-tengah intrik Plankton ataupun kearoganan Squidward; bermain tangkap ubur-ubur di tengah kesibukannya sebagai koki di Krasty Krabb dan perjuangannya untuk lulus Sekolah “Mengemudi”. Ia bisa tetap tertawa ceria di tengah-tengah dunia penuh kerumitan di sekitarnya. Dan menurut liliputjogja, justru itulah yang membuat SpongeBob tetap survive sebagai pribadi yang tulus dan jujur: karena ia mempertahankan sikap polos dan kritik seorang bocah, hal yang semakin ditinggalkan seseorang saat ia beranjak dewasa.

Barangkali, Bikini Bottom akan menangis jika kehilangan sosok sponge yang satu ini. Patrick dan Sandy, dua sahabat akrabnya, barangkali adalah dua orang yang paling kehilangan, karena tak akan ada lagi yang bisa menemani kepolosan Patrick dan mencegah kepulangan Sandy ke Texas di atas laut. Tuan Krabb pasti juga akan terpukul jika koki terbaiknya (dan satu-satunya) itu tiada, setidaknya sebelum ia menemukan segunung uang yang akan segera membuatnya kembali ceria. Gary si siput juga mungkin akan sedih jika majikannya meninggal, tetapi mungkin juga akan terhibur karena tak ada lagi tuan yang lupa memberinya makan. Nyonya Puff mungkin malah akan ceria karena muridnya yang tak kunjung lulus itu meninggal, tapi ia pun pasti akan merindukan kehadiran si celana kotak-kotak di kelas. Squidward barangkali akan berpesta saat itu terjadi, setidaknya sebelum ia sadar betapa tetangganya itu selalu “mengganggunya” justru untuk melunakkan arogansi dan keegoisannya. Banyak mungkin yang akan senang dengan kepergian “si pengganggu” SpongeBob, tetapi tak akan terhitung banyaknya yang menangisinya.

Sungguh, liliputjogja merasa SpongeBob bukan hanya sebuah kartun anak-anak yang mengeksploitasi kekonyolan tokoh-tokohnya ataupun membawa dunia bawah laut yang indah ke layar televisi. SpongeBob SquarePants adalah bentuk kritik kepada dunia orang dewasa, yang egoistis, arogan, mengedepankan uang dan kejayaan di atas segalanya. SpongeBob SquarePants adalah sebuah ironi terhadap dunia di sekitar kita yang penuh intrik dan kelicikan, bahkan peperangan. SpongeBob SquarePants menghadirkan sebuah pemikiran betapa rumit dan anehnya dunia saat ini.

Barangkali benar kata seorang teman bahwa “Semakin kau kenal dunia, semakin brengsek dirimu!”, bahwa orang dewasa cenderung untuk menjadi licik, materialistis dan bahkan “jahat”. Mereka tak malu-malu lagi berbuat kecurangan-kecurangan dan mencuri yang bukan miliknya, melakukan kekerasan dan bahkan membunuh orang lain, hal yang ketika kecil mereka komentari dengan polos, “Nanti masuk neraka lho!”. Banyak yang tak lagi ingat betapa perbuatan-perbuatan yang sewaktu kecil dianggap tabu oleh mereka, kini justru mereka jadikan rutinitas. Patut disayangkan, orang-orang dewasa kini menganggap nilai-nilai yang mereka percaya sewaktu kecil hanya sebatas “untuk menakut-nakuti anak-anak”.

Liliputjogja berpendapat, barangkali negeri ini akan lebih baik jika dipimpin oleh seorang SpongeBob SquarePants. Meski suka bercanda dan kekanak-kanakan, ia tetaplah sosok jujur, setia, dan pekerja keras. Barangkali, ia masih lebih baik daripada mereka yang kini duduk di kursi kekuasaan, yang tak lagi menggunakan hati nurani untuk bertindak.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.